sujushidaeforeternity!!

[SongFict] My Love, My Kiss, My Heart ~ Chapter 4

My Love, My Kiss, My Heart ~ Chapter 4

 

Main Casts:

Jessica Jung – Cho Kyuhyun – Lee Donghae

 

Another Casts:

Kim Heechul  – Kim Taeyeon – Tiffany Hwang

SNSD – Super Junior

PLEASE DON’T BE A SILENT READER!!!

 

~ Cinta itu tidak bisa diatur. Seberapa besarpun kau berusaha untuk mencegahnya untuk tidak tumbuh, semakin besar pula ia akan tumbuh. Apapun alasannya”~

 

~~@@~~

 

JESSICA’S POV

 

“Inikah tempatnya?”

Aku mengangguk sekali seraya tersenyum puas. Ini adalah salah satu tempat terbaik yang masuk dalam daftarku. Sebaiknya dia berterima kasih padaku untuk hari ini.

Setelah mengunjungi beberapa tempat, aku memutuskan untuk mengajak Kyuhyun ke namdaemun—sebagai tempat terakhir yang dikunjungi sebelum pulang. Bulan tampak semakin benderang, namun keramaian di pasar ini sama sekali tidak berkurang. Sama dengan jantungku yang tidak bisa dipungkiri ramai akan detakan demi detakan yang memenuhinya. Atau bisa dikatakan  rasa gugup dan senang sedang menjalariku saat ini.

Jalan berdua dengannya adalah sesuatu hal yang bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak berani.

Rasa kesal, marah, dan kecewa yang belakangan ini menderaku seakan menguap begitu saja dan entah kemana perginya. Detak jantungku yang berirama tak beraturan semakin meyakinkanku bahwa perasaanku padanya sudah jauh lebih dalam, lebih dalam dari yang kuperkirakan sendiri. Kabar baik atau kabar buruk. Entahlah. Rasa ini sudah melangkah terlalu jauh.

“Apa disini selalu seramai ini?” tanyanya yang sontak membuatku menoleh kearahnya. Aku bisa memastikan ia dapat melihatku kembali mengangguk sekilas.

Selama ini aku menyangka dia orang yang sangat jarang bicara, tapi sepertinya aku salah sangka. Dia sangat cerewet. Mungkin kalau dari tadi aku menyalin semua pertanyaannya,sudah ada seribu di dalam daftar.

“Disini banyak jajanan yang enak. Kau mau coba?” Kyuhyun melihat kesekitar—kedai-kedai kecil yang berada dikedua sisi jalan dan diramaikan dengan orang banyak.

“Sebaiknya kau punya rekomendasi yang baik.” Senyuman kecilku pun langsung mengembang, dan mulai menyusuri jalanan yang sudah tak asing lagi bagiku. Kyuhyun mengikuti irama langkahku, mensejajarkan posisinya agar tepat berada disampingku.

***

Langkah kami terhenti di depan sebuah kedai kecil yang mungkin tidak terlalu ramai bila dibandingkan dengan tempat yang lain. Kyuhyun mengerutkan keningnya, membuat kedua alis hitamnya menyatu. Senyuman tidak hentinya terpancar dari wajahku. Kutarik tangannya dengan semangat saat memasuki kedai ramyeon ini.

“Tenang saja. Mungkin kedai ini tidak seramai kedai yang lain, tapi rasanya jauh lebih enak dibandingkan yang lain.”

Kyuhyun hanya mengangguk kecil sambil memperhatikan pengunjung lain—tiga pria muda dan seorang pria paru baya—yang sedang menyantap habis ramyeon mereka.

“Sica~ya.. Ini pesananmu.” Dua mangkok ramyeon seafood tertata dengan sangat manis dihadapanku dan Kyuhyun. “Kamsahamnida eommoni.”

“Siapa pria ini?” Wanita paruh baya itu menyipitkan matanya saat menunjuk kearah Kyuhyun, membuat tingkahku tampak konyol saat itu juga. Belum sempat aku menjawab, dia tertawa kecil seraya mengacak rambutku singkat dan berlalu saat salah seorang pengunjung memanggilnya.

“Eommoni? Kau kenal dengan bibi itu?” Ekspresi bingungnya sukses membuatku terkikik.

“Dulu aku sering mampir kesini dengan orangtuaku dan Heechul oppa untuk merayakan apa yang harus dirayakan. Tapi semenjak kepergian mereka, Heechul oppa jarang berkunjung kemari. Tapi tidak denganku, Aku selalu mampir di waktu luang walaupun harus sendirian.  Jujur… Ini adalah tempat yang sangat istimewa untukku. Sulit untuk tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke tempat ini lagi, ”

Kyuhyun mengaruk pelan kepalanya—yang bisa aku pastikan tidak terasa gatal. Aku tahu. Ia pasti merasa bersalah telah menanyakan hal itu, karena mendorongku mengungkit kembali kisah kecil orang tuaku. Tapi sungguh. Aku sungguh tak apa. Senang rasanya bisa berbagi kisah dengan orang lain, terlebih lagi dengan orang yang kau sayangi. Tunggu… sayangi?

“Ibumu adalah orang yang baik, Sica. Begitupun ayahmu. Aku bisa mengerti kalau kau terkadang kau masih larut dalam kesedihan di saat memikirkan mereka.”

Aku tersenyum mendengar kata-katany. Tapi, Tunggu dulu. Dia mengatakan semua hal itu seperti dia benar-benar mengenal orang tuaku. Apa ia sempat bertemu atau bahkan mengenal orang tuaku? Tapi kalau iya—mengingat dulu aku selalu menempel pada orang tuaku dimanapun mereka berada—seharusnya aku juga mengenal pria ini. Sudahlah. Lupakan saja.

“Kyuhyun-ssi…” Mata indahnya mengarah memandangku—cukup membuatku rela melakukan apa saja agar ia terus menatapku seperti itu. “Sebenarnya… kau adalah orang pertama yang aku ajak kesini selain keluargaku. Senang rasanya bisa makan disini… bersama denganmu”

Diam. Hening. Dia hanya diam menatapku saat mendengar kata-kataku. Kemudian melanjutkan makannya. Bisa kurasakan wajahku memanas. Sial! Kenapa aku mengatakan hal bodoh seperti itu? Tidak bisa dipercaya. Seharusnya dia mengatakan sesuatu. Bagaimana ini? Rasanya aku ingin kabur saja, saat ini juga.

“Apakah tidak ada yang ingin dia sampaikan? Dasar pria yang tidak peka.” ocehku nyaris seperti berbisik pada diriku sendiri.

“Sampaikan tentang apa wanita yang sangat peka?”  Ternyata dia mendengar ocehanku. Nadanya datar tapi pandanganya mengejek. Wajah polosnya yang tanpa dosa membuatku semakin merasa menyesal dan juga kesal telah mengocehkan hal bodoh seperti itu. Kenapa pria ini begitu menyebalkan? Dan kenapa aku harus menyukainya?

“Gomawo.”

“Apa?” Aku tersadar—menghentikan peperangan yang baru saja terjadi di dalam otakku. Kyuhyun meletakkan sumpit dan sendoknya, kemudian tersenyum memandangku, “Gomawo..”

Aku kembali merutuki diri sendiri. Saat itu juga jantungku kembali berdebar-debar, seakan-akan kapan saja ia siap meninggalkan tempatnya. Dia selalu berhasil mengacaukan sistem kerja jantungku. Tidak seharusnya aku melihat dia tersenyum seperti itu. Tuhan benar-benar tidak adil. Bagaimana mungkin dia bisa menciptakan pria setampan ini? Membuatku kehilangan akal sehatku karena sangat menyukainya.

~~@@~~

 

“Berhentilah mengikutiku terus Fanny!”

“Aku tidak akan mengikutimu dari tadi kalau kau tidak menceritakannya!” Eye smile yang setiap pagi menyambutku lenyap begitu saja, digantikan dengan tatapan menuntut dari gadis yang ada di hadapanku saat ini. Tiffany tetap bersikukuh dengan keingintahuannya. Keingintahuannya mengenai kejadian kemarin—kemunculan pria bernama Cho Kyuhyun secara tiba-tiba yang membuatku pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Tidak ada yang harus diceritakan. Dia hanyalah teman Heechul oppa yang datang dari L.A. Dia meminta tolong untuk mengajaknya berkeliling. Itu saja.” Sial! Aku tidak bisa berbohong. Gaya bicaraku yang gugup dapat dilihat dengan jelas karena banyaknya jeda yang timbul per-kata.

Tiffany menyipitkan kedua matanya, memandangku curiga. Dikendikkannya bahunya seraya menarik nafas panjang kemudian membuangnya kembali, “Baiklah kalau kau memang tidak mau cerita.” Raut wajahnya yang tadi tampak tegas menuntut berubah menjadi muram. Oh tidak!

“Okay, I’ll tell you!” Hanya butuh waktu satu detik membuat wajah muramnya menjadi riang dan penasaran secara bersamaan.

“Apa kau masih ingat mengenai hal ‘cinta pada pandangan pertama’ yang kutanyakan?”

Tiffany mengangguk cepat saking semangatnya, yang tanpa dia sadari aku telah mengungkapkan satu-satunya petunjuk yang dapat menjelaskan siapa pria itu sebenarnya. Aku kembali dengan sengiran anehku. Mataku dan Tiffany saling bertatapan cukup lama. Tiffany langsung membulatkan kedua matanya. Aku mengangguk malu. Tidak percaya ia membekap mulutnya sendiri.

“Bagaimana mungkin? Jadi.. Pria itu?” Tiffany mencoba mengumpulkan huruf demi hruruf untuk mengucapkan rangkaian kata yang pas.

“Aku juga masih bingung Fany-ah. Pria itu terlalu… memikat?”

Tiffany tertwa tertahan. “Ya.. kau benar kalau soal itu. Sebenarnya aku juga terlalu sibuk memperhatikan sosoknya yang menyelamatkanmu saat itu. Sampai –sampai saat mobilnya menghilang, baru aku sadar kau juga menghilang.” Kupukul lengannya dengan pelan, membuat ia menggantikan kekehannya dengan sebuah ringisan. Tiffany mendengus kesal, namun ia kembali diam,  memandangku bingung. Tangannya meraih tanganku.

“Tapi Sica-ya. Kau tidak boleh.”

“Tidak boleh apa?” Tentu saja ini membingungkan. Kenapa tiba-tiba Tiffany berkata seperti itu padaku?

“Kau itu milik seseorang Sica. Kau tidak boleh lupa akan hal itu, meskipun ia tak ada disini sekarang.”

Hening. Semuanya berputar kembali untuk kesekian kalinya dibenakku. Membuatku pusing. Helaan nafsasku terasa berat. Tiffany benar, tapi dia juga salah. Apakah pria itu masih mengingatku? Tidak mungkin. Tidak mungkin dia masih mengingatku. Aku sangat berharap, dia sama sekali tidak mengingatku.

***

 

KYUHYUN’S POV

“Apa kau menyukaiku oppa?” Aku terkekeh mendengar pertanyaan Taeyeon. Banyolan apalagi yang disediakannya untuk menghiburku di pagi ini? Kupukul pelan kepalanya, membuatnya meringis seraya mengusap-ngusap kepalanya.

“Kenapa kau suka sekali mengajakku kencan?” Mulutku menganga lagi-lagi dengan alasan yang sama—pertanyaan konyol Kim Taeyeon. Dia hanya menjulurkan lidahnya keluar dan langsung berlari menduduki kursi taman yang menjadi tempat kami biasanya menghabiskan waktu bersama.

“Aku tidak pernah mengajakmu kencan. Aku hanya mengajak temanku menemaniku jalan. Hanya kau dan Heechul hyung yang aku punya disini. Apa kau lupa?” ocehku kemudian duduk di sampingnya.

“Benarkah? Bukankah kau juga punya seorang lagi?”  Taeyeon kembali meneguk jus kalengnya.

“Siapa?”

“Gadis yang kau kenalkan padaku kemarin. Gadis yang bernama Jessica itu.” Matanya tertuju menatapku. Senyuman kecil juga terpampang jelas disana.

Jessica? Tidak mungkin aku menghabiskan waktu hanya berdua dengannya dalam waktu yang cukup lama. Itu sangat tidak baik untuk ketenangan otak dan batinku. Terlalu banyak pergolakan dan peperangan yang terjadi disana. Konyol sekali bukan?

“Dia adiknya Heechul hyung. Lagipula aku juga tidak begitu dekat denganya.” Jelasku dengan nada ringan. Taeyeon mengangguk paham—pura-pura paham tepatnya, lalu memandangku dengan tatapan mengejek. Benar-benar memaksaku untuk mencekiknya.

“Tidak begitu dekat dengannya, tapi menyukainya begitu?” lagi-lagi ia terkekeh.

“Sebaiknya kau tutup mulutmu Kim Taeyeon.” Ujarku dengan nada seakan mengancam. Teayeon berlagak takut, namun kembali tertawa. Dasar anak kecil. Aku tidak mungkin menyukai gadis itu. Kalaupun iya, aku akan membuang perasaan itu sejauh mungkin.

“Kenapa diam oppa? Memikirkan sesuatu?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

“Oppa, ada yang harus kau ingat. Cinta itu tidak bisa diatur. Seberapa besarpun kau berusaha untuk mencegahnya untuk tidak tumbuh, semakin besar pula ia akan tumbuh. Kau harus ingat itu. Apapun alasannya”

Aku terdiam mendengar perkataannya. Teori itu sangat tidak adil.

“Ohya, apa kau sudah menghubungi keluargamu oppa?” Aku menggeleng. Menghubungi mereka untuk saat ini adalah keputusan yang sangat tidak tepat. Bisa-bisa mereka menyuruhku cepat-cepat kembali Amerika.

“Sebaiknya kau menghubungi mereka secepatnya oppa” Dia kembali menoleh dan menatapku sayu, lalu melanjutkan kalimatnya, “Sebelum mereka menelepon dan memaksaku untuk memberitahu mereka tentang keberadaanmu.”

~~@@~~

Jarum jam panjang telah menunjuk ke angka dua belas dan jarum yang satunya menunjuk tepat pada angka sembilan. Bulan menampakkan setengah dirinya di hamaparn langit yang gelap dan dipenuhi kabut. Tidak ada bintang disana. Pertemuanku dengan Taeyeon tadi menyadarkanku akan banyak hal. Dia benar. Kedatanganku ke korea membuat segalanya semakin rumit. Aku mengakuinya. Ditambah lagi dengan masalah baru yang belakangan ini menjadi ketakutan terbesarku.

Jari jemariku dengan perlahan menyentuh deretan angka yang tertera dengan sangat jelas pada kalender mejaku. Hitungan jam. Heechul hyung akan kembali dan mungkin intensitas kebersamaanku dengan adiknya juga akan berkurang karenanya. Senang dan kecewa. Dua perasaan yang menyatu. Itulah yang kurasakan saat ini. Senang karena mungkin lebih baik begitu dan sedih karena akan merindukan tujuh hari yang hanya ada kami—dua orang yang menjadi subjek utama.

 

Kyuhyun-ssi?” Suara gadis itu. Suara yang selalu terdengar merdu di telingaku. Teriakan. Lengkingan. Bisikan. Semuanya terdengar merdu. Senyuman dan matanya yang berbinar-binar menyambut pandanganku sesaat aku menoleh kearahnya. Kuberikan dia isyarat untuk masuk dengan menggunakan jari telunjukku.

“Ada apa?”

“Tadi Heechul oppa meneleponku. Dia sedang berada di perjalanan menuju kesini.” Kepalaku mengangguk pelan. Suasana kembali canggung. Aneh rasanya harus mengalami situasi seperti ini bersama dengan gadis ini.

“Aku penasaran dengan perkembangan lagumu. Bagaimana? Apa sudah jadi?” selanya memecah keheningan diantara kami.

“Terlalu banyak inspirasi. Sampai-sampai aku bingung harus menulis apa.”

Jessica menahan tawanya, “Apa kau baru saja mengatakan kau tidak bisa karena terlalu banyak inspirasi? Bukankah justru memiliki banyak inspirasi itu semakin baik?”

“Tidak juga. Lihat saja aku.” Jawabku ketus. Jessica terdiam dan kemudian mengerucutkan bibirnya—salah satu kebiasaannya yang paling kuingat. Itu menandakan kalau ia sedang merasa kesal.

Saat ini, Bukan. Tepatnya sejak kedatanganku ketempat ini, yang menjadi inspirasiku hanya ada satu, yaitu ‘dia’. Walaupun hanya satu—‘dia’, terlalu sulit untuk menggambarkannya—sosok yang terlalu rumit untuk kuukir dengan kata-kata indah, karena seindah apapun kata-kata yang menggambarkannya, tidak akan bisa menandingi keindahannya secara nyata. Perasaan yang harus dituangkan pun terlalu banyak dan rumit. Semuanya terlalu membingungkan.

“Apa kau sedang banyak pikiran?” Jessica berjalan mendekatiku yang duduk di kursi kerjaku. Helaan nafasku yang panjang terdengar sangat jelas ditelinganya. Yah.. belakangan ini aku memang sedang banyak pikiran. Keberadaanku disini, keberadaan Taeyeon, dan tentu juga keberadaan gadis ini.

“Ya begitulah.”

“Ayo ikut aku.” Dia mengulurkan tangannya padaku.

“Ada apa?” Dia hanya tersenyum seraya memainkan kedua alisnya. Cih~ Dengan nalurinya sendiri, tanganku seperti menurut saja untuk menyambutnya. Menggenggamnya dengan lembut dan hati-hati. Bibir tipisnya membentuk lembah terindah yang pernah kulihat. Seperti orang yang terhipnotis, aku mengikuti kemana langkahnya membawaku.

***

Kami kembali keruangan ini. Ruangan dimana hanya ada sebuah piano klasik di dalamnya. Ruangan dimana pertama kali aku baru menyadari jantungku berdetak dengan irama yang indah hanya jika dengan memandang ataupun berada di dekatnya. Ruangan dimana pertama kalinya aku ingin merengkuhnya disaat ia sedang menangis. Aku mengingatnya dengan sangat jelas.

“Kyuhyun-ssi….” Entah sejak kapan Jessica sudah duduk di kursi kayu yang berhadapan langsung dengan piano klasik itu,  mengisyaratkan ku untuk duduk di sampingnya. Tangannya perlahan tapi pasti mulai menekan beberapa tuts sehingga menimbulkan nada-nada yang indah.

“Aku tidak menyangka gadis sepertimu bisa bermain musik.”

“Apa kau bilang?” Sepertinya membuat gadis ini kesal telah menjadi kebiasaan atau bisa kukatakan hal baru yang kusukai dan mungkin akan terus kulakukan kedepannya.

“Kau tidak pernah bilang kau mahir dalam bermain piano.” Jari-jari indahnya bermain dengan sangat lincah di atas sana.

“Tidak mahir. Hanya bisa.” Aku bisa melihat kedua pipinya yang merona merah, membuatku tersenyum seperti orang bodoh.

“Waktu itu kau menghiburku dengan memainkan beberapa lagu, jadi aku berpikir untuk melakukan hal yang sama terhadapmu.”

Kuanggukkan kepalaku untuk beberapa kali. Akan lebih menyenangkan bila yang dia lakukan ini bukan demi balas budi, tapi hanya karena dia memang ingin melakukannya. “Aku akan lebih senang jika kau memainkan sesuatu yang ceria, bukan sesuatu yang melankolis.”

Jessica menyatukan ibu jari dan telunjuknya sehingga membentuk lingkaran, menandakan kalau ia mengerti dan akan melakukan sesuai intruksiku. Dia memandangku untuk beberapa detik, sebelum pada akhirnya jari-jari indahnya berlari-lari dengan indah disetiap tuts yang dilalui mereka.

Bukankah aku pernah mengatakan bahwa suaranya, dalam bentuk apapun itu—teriakan, lengkingan, bisikan—sangatlah merdu? Mendengarnya bernyanyi tepat dihadapanku, hanya untukku, adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Suaranya yang bersih, merdu, dan nyaring memaksaku untuk membayangkan bahwa aku adalah seorang pangeran dari negeri dongeng.

“Bagaimana?” Senyuman puas terlihat jelas. Tidak bisa dipungkiri dia berhasil memukauku hanya dengan menyanyikan sebuah lagu anak-anak, gomsae mariga.

“Apakah kau berusaha menghiburku dengan menyanyikan sebuah lagu anak-anak? Sebuah beruang dengan rumah yang besar, ayah beruang yang gemuk, ibu beruang yang cantik…”

“Kenapa kau begitu cerewet huh? Sudah syukur aku mau menghiburmu.”

“Aku tidak memintamu. Kau yang ingin melakukannya.” Aku mencoba mempertegas setiap kata-kataku. Baiklah. Mungkin ini sudah agak terlalu keterlaluan?

Jessica menatapku kesal. Dihentakkannya susunan tuts dengan kedua telapak tangannya yang tebuka, menimbulkan dentuman yang cukup kuat untuk memekakkan telingaku. Okay. Sekarang aku telah membuatnya marah. Bagus sekali Cho Kyuhyun. Melihat taring yang sepertinya akan segera keluar dari mulutnya, sebaiknya aku harus mengatakan sesuatu.

“Mianhae?” Ujarku ragu.

Jessica menghela nafasnya panjang, tempak mencoba menetralkan kembali emosinya yang sudah berada di batas normalnya. Aku pun kembali merasa tenang. Sebelumnya Heechul hyung sudah mengingatkanku untuk tidak membangkitkan amarah adiknya kalau masih ingin tampak seperti manusia normal lainnya. Ada baiknya jika aku berhati-hati.

“Lagu ceria yang kutahu hanyalah lagu anak-anak. Jadi bagaimana?” nadanya maih terkesan ketus.

“Sepertinya suasana hatimu sedang tidak bagus untuk menghiburku. Justru sebaliknya aku yang perlu menghiburmu.”

Jessica tertawa tertahan. Ia tersenyum kemudian menoleh kearahku. Gadis ini kenapa bisa secepat ini kembali pada mood nya yang semula. Benar-benar aneh. Sama saja seperti kakaknya Heechul hyung.

“Ada satu lagu ceria yang sering aku dengar belakangan ini. Aku akan memainkannya untukmu.” Ia mulai memainkan intonya. Ujung bibirku tertarik keatas merapat. Pilihan yang tepat untuk mengiburku. Matanya berbinar-binar saat menyanyikan kalimat demi kalimat. Matanya kadang terpejam, seakan membayangkan sesuatu di bagian-bagian lirik tertentu. Senyumannya pun tak pernah lenyap.

When humming tune, with a light step on

The way to meet you under the sunshine

I have enough time to check my reflection

I wonder what kind of talk we’ll have today

I can see you over there

Today is such a day of good feelings…

 

Smiling without knowing

I laugh when I think of you

I wonder if you’ll approve of how I look

I keep thinking

What would it be like if we linked arms today?

Shall we hold hands?

I can see you over there

Today is such a day of good feeling.

 

“Aku tidak bisa berbohong lagi.” Jessica menghentikan nyanyiannya.

Musik berhenti. Nyanyiannya pun terhenti. Aku tahu betul lagu ini. Dia belum sempat menyanyikannya dengan penuh. Dia belum menyelesaikan lagu ini sampai selesai. Matanya yang terpejam mulai terbuka dan menatapku secara perlahan. Ia memandangku dengan takut dan bingung. Apa yang terjadi? Tidak Jessica. Kau tidak boleh. Mataku menyusuri setiap bentuk bagain dari wajahnya, wajah seorang gadis yang tampak ketakutan dan kebingungan, yang ada di hadapanku sekarang dengan seksama.

Tanpa kusadari tangan kananku sedang menyentuh kulit wajahnya yang lembut dan halus. Kedua matanya kembali terpejam. Tidak ada apapun yang ada dibenakku saat ini kecuali dia. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, akupun tidak tahu.

Perlahan tapi pasti bibirku bertemu dengan bibirnya. Jarak kami yang begitu dekat membuatku dapat merasakan detakan jantungnya yang memburu. Berlomba-lomba dengan detak jantungku yang tidak kalah kacaunya. Jari-jarnya yang lembut mulai menyusup ke dalam rambutku. Tanganku yang melingkar di pinggangnya semakin mempersempit ruang kami.

Ting…Tong…

 

Terdengar suara bel dari depan pintu masuk. Seperti orang yang terkena sengatan listrik beribu-ribu volt, aku dan Jessica spontan langsung melepaskan diri dengan secepat kilat. Kami berdua tampak kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Sama-sama mencoba untuk mengatur nafas. Mata kami kembali bertemu. Wajahnya memerah seperti buah tomat yang baru saja  dipanen.

Jessica langsung berlari—memutuskan kontak mata antara aku dan dia—ke arah pintu masuk. Aku bisa mendengar langkahnya yang terdengar terburu-buru dari sini. Ya Tuhan. Apa yang telah kulakukan? Itu tidak seharusnya terjadi.

***

 

JESSICA’S POV

 

Apa yang baru saja terjadi? Kuletakkan tanganku tepat di depan dadaku. Yang tadi itu bukanlah mimpi. Itu adalah nyata. Aku masih bisa merasakan degup jantungku berdetak tidak karuan, sangat tidak karuan. Bagaimana ini? Tanganku dengan gemetaran membuka daun pintu secara perlahan, memperlihatkan wajah Heechul oppa yang kusut.

“Kenapa lama sekali huh?” omelnya dan tanpa babibu langsung membawa masuk barang-barangnya ke dalam rumah.

“Mianhae op..pa..” Sial! Aku masih gemetaran mengingat hal tadi. Ottohke?

“Dimana Kyuhyun?” Heechul oppa tampaknya masih belum menyadari sistem kerja tubuhku yang terlalu berlebihan. Kutarik nafasku sedalam-dalamnya kemudian membuangnya. Memaksa bibirku untuk tersenyum selebar mungkin.

“Wasseo hyung?” Suara berat Kyuhyun tiba-tiba saja terdengar. Aku belum siap untuk bertatap muka denganya—berdiri membelakanginya dan Heechul oppa.

“Ya! Kenapa kau berdiri disitu? Kau tidak rindu padaku?” Dengan sangat berat hati aku membalikkan badanku. Aku tidak berani membayangkan betapa konyolnya tingkahku saat ini. Sekilas aku menoleh kearah Kyuhyun. Ekspresinya biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

“Kau kenapa? Sakit? Wajahmu pucat sekali Sica-ya!” Heechul oppa menghampiriku dengan raut wajah cemas. Aku menggeleng kikuk. Ayolah Jessica Jung! Kau pasti juga bisa berpura-pura seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tiba-tiba bel kembali berbunyi, membuat kami bertiga—aku, Heechul oppa, dan Kyuhyun—terpaku pada pintu depan secara bersamaan. Sudah hampir menjelang dini hari. Tidak pernah ada orang yang bertamu kerumah orang selarut ini. Heechul oppa melangkah dengan hati-hati. Ia menoleh kearah aku dan Kyuhyun sejenak sebelum akhirnya ia memutar daun pintu, sehingga memperlihatkan dengan jelas siapa tamu yang tak kami sangka-sangka itu.

Kakiku melemas saat itu juga. Kalau Kyuhyun tidak menopangku, mungkin aku sudah terduduk di lantai saat itu juga. Heechul oppa tampak kaget, sama halnya denganku. Senyuman tamu itu mengembang saat Heechul oppa dengan semangat menariknya ke dalam pelukannya. Tidak. Tidak mungkin. Ini mustahil. Aku langsung berpaling menatap Kyuhyun yang sedang menatapku sang tamu dengan bingung.

“Sica-ya. Aku merindukanmu.” Sang tamu merengkuhku masuk ke dalam pelukan hangatnya. Dia  mengecup keningku kilat kemudian melepas pelukannya. Ini semua terlalu mendadak dan terlalu mengejutkan.

“Donghae oppa?”

~~To Be Continued~~

 

I’m really sorry for long long long ‘no-update’

Many things made me stop writing ficts

Karena itu, mungkin sebelum saya benar-benar berhenti nulis FF

Saya bakalan nyelesein FF ini sama beberapa FF yang masih gantung.

Dan mungkin saya juga bakalan post beberapa FF oneshot juga.

 

Maaf banget buat yang uda nunggu lama untuk lanjutan FF ini.

Untuk yang mungkin masih berminat dengan lanjutan kisahnya sok dibaca dan di comment ^^

Untuk chap berikutnya bakalan di post minggu depan..

 Kamsahamnida!! ^^

 

P.S: Bashing’s not allowed in here!!

18 responses

  1. ve

    KYA~ akhirnya di rilis juga lanjutannya >.<
    em, scene akhirnya ga enak banget ya? bikin panas suasana. hehe
    sebenernya kenapa sih papi kyu ga boleh suka sama mami jess? ah bikin bingung aja nih author😦

    February 19, 2012 at 10:18 am

    • hahaha~ saya emang seneng bikin bingung orang…
      tunggu chap selanjutnya aja yah kalo mau tau… ^^

      February 20, 2012 at 12:26 pm

  2. aein

    Omo!!! They kissed. Kyusic kissed!! Finally, hahahaha. Love this chapter so much❤
    Tapi tapi akh cliffhanger. Hae darimana aj akhirnya nongol juga.
    Mau lanjutannya chingu, smoga next week beneran di post😉

    February 19, 2012 at 12:26 pm

    • yes!! They kissed!!! LOL~
      pasti bakalan di post minggu ini kok..
      maaf kalo uda bikin nunggunya kelamaan yah.. kkk~

      February 20, 2012 at 12:27 pm

  3. Siti JoJo Amigo

    wah chingu q nunggu klnjutan ff ini ampe bulukan nih ‘?’
    hah trlalu lama.-,-
    hhe.
    tpi g pha” sih,kalo taunya crtanya menarik gini.
    huh chulpa ngeganggu kyusica sdng romance”nya deh*dasar orang tua😀
    eceilee kyu dah mulai mengakui tuh perasaannya ke sica^^,tpi sayang haepa kembali-.-

    jdi maw taw cpet” chap briktnya nih,ada mslah yg bkin pnsaran.
    next part d tnggu n jngn lma” yah?
    knpa chingu maw brhenti nulis ff?
    pdhalkan ffmu menarik”,apalagi crta kyusica.
    bhsanya mudah dpahami n bkin pnsaran ingn bca trus -,-

    February 23, 2012 at 6:14 pm

    • parah ampe bulukan ._.
      saya pasti bakalan selesein FF ini kok..
      so,, gidaryeoyo! ^^

      March 1, 2012 at 4:40 am

  4. Andraaa

    akhirnya ada lanjutannya..
    cie kiss ><

    lanjut yaaa

    February 24, 2012 at 12:32 pm

    • sippo ^^

      March 1, 2012 at 4:38 am

  5. Dah lama bgt nungguin lanjutannya. Sampai prustasi, kirain gag bakal berlanjut.

    Heechul oppa bikin kesel mah. Orang lg kisseu, eh dia datang. Datang di saat yg tdk tepat !!

    Dan satu lagi, Donghae oppa datang! Wah~ jd penasaran cinta segitiga mereka nanti. Jujur, aku lg demam HaeSica. Tapi tetep mah suka KyuSica. Siapapun yg jd pasangan Sica nanti, aku tetap mendukung kok..

    Jangan lama-lama lg post lanjutannya yah.. Daebbak!

    February 26, 2012 at 8:49 pm

    • astaga.. mianhae~ ampe frustasi gitu ._.
      i’ll try to update this fict faster okay??

      March 1, 2012 at 4:36 am

  6. ceilah scene akhir ga enak amat -_- main nyosor aja *tendang kakek kyuhyun
    weh papi hae muncul \^o^/ sica siap diperebutkan *dikira barang dagangan -_-
    dan yg pasti bakal tambah seru dengan kedatangan heechul *goyang bareng chul

    February 29, 2012 at 6:05 am

    • kyunya nyosor duluan tp sicanya juga yang mau tuh *plak

      March 1, 2012 at 4:34 am

  7. Liah gorjess

    Aaakhirnya di update jg ff yg ditunggu-tunggu ini !
    Hehe.
    kayanya masih banyak rahasia di ff ini ya?
    Yg kyu kenapa ga ksh tau ortunya..
    Trus donghae dari kemaren kemana aja?
    Aaah itu kyusica momentnya kurang panjang.. Keburu heechul dateng! Haha.
    Meskipun donghae dateng saya msh berharap endnya kyusica ,
    chingu, ditunggu terus ff kyusica nya !
    Hehe.😀

    February 29, 2012 at 3:20 pm

    • banyak banget yah yang dipertanyakan ==”
      kkk~ditunggu aja yah lanjutannya..
      thx for ur comment ^^

      March 1, 2012 at 4:32 am

  8. yessica febianca

    Lanjutan’y di tunggu min..

    March 3, 2012 at 10:34 am

  9. Hiyaaaaaaaaaa.. TBC?
    belum ada terusannya..
    yaaa…nangis ngesot saya…
    ini dah 1 minggu lebih dri publish nya chapter 4 ya..
    aigoo authornya sibuk ya?

    komen dulu yg part 4:
    Hiyaaaaaa.. itu apa??? *rusuh
    kisseu..kisseu… Hiya si heechul ganggu?
    dan apa itu ada abng Dongkrak eh maksudnya abang ikan datang?
    kekasih sica kah.. iya… makin rumit jja.. aq tunggu lanjutannya deh..

    March 7, 2012 at 9:54 am

    • sibuknya gak terkatakan lagi :((
      makanya saya juga uda mutusin bakalan nyelesein nih ff biar ga nulis lagi..
      yang pasti bakalan teteup di post ampe tamat kok…

      March 11, 2012 at 11:17 am

  10. paul

    ditunggu berikutnya

    March 10, 2012 at 2:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s