sujushidaeforeternity!!

[SongFict] My Love, My Kiss, My Heart ~ Chapter 3

My Love, My Kiss, My Heart ~ Chapter 3

 

 

Main Casts:

Jessica Jung – Cho Kyuhyun – Lee Donghae

 

Another Casts:

Kim Heechul  – Kim Taeyeon – Tiffany Hwang

SNSD – Super Junior

 

PLEASE DON’T BE A SILENT READER!!!

 

~~@@~~

 

JESSICA’S POV

 

Tidak terasa hari ini adalah hari ke-empatku berdua dirumah ini dengannya. Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Senyumanku semakin mengembang saat mataku menemukan beberapa lembar kertas lusuh penuh dengan coretan di atas meja riasku.

Kuambil kumpulan kertas itu dan memfokuskan pandanganku padanya. Kertas ini. Kertas yang digunakan-nya saat sedang mencoba menyusun kata-kata indah, menjadi lirik yang jauh lebih indah bila dipadukan dengan nada.

Pikiran menerawang jauh, kembali pada saat aku dan dia berada di ruang piano. Aku bisa melihat dengan jelas sisi lain yang ada pada dirinya, sangat berlawanan dengan sikapnya yang anti sosial–acuh tak acuh–padaku.  Senyuman yang ditunjukkannya waktu itu terlihat sangat manis dan tulus, dan aku menyukainya.

“Jessica-ssi.” lamunanku buyar sesaat suara merdu yang sangat kukenal terdengar sangat jelas memanggil namaku. Ketukan pintu pun semakin memperjelas semuanya. Langkahku dengan cepat menuntunku merapat ke pintu, tapi tidak untuk membukakan pintu. Kutarik nafas panjang untuk beberapa kali dan membuangnya. Setelah merasa tenang, kuputar knop pintu kamarku pelan, sehingga memperlihatkan sesosok pria tinggi dengan rambut keemasaan disana.

“Kenapa lama sekali?” keluhnya.

“Aku tadi ketiduran. Memangnya ada apa?” kilahku. Tidak mungkinkan aku mengatakan bahwa aku sedang memikirkannya?

“Aku lapar. Buatkan makanan!” Tanpa basa-basi ia langsung mengungkapkan maksudnya. Aku menatapnya datar. Apa-apaan ini? Apa aku ini adalah pembantunya? Seakan tidak peduli dengan apa yang mungkin kurasakan saat ini, dengan seenaknya ia menarik tanganku keluar dari kamar dan menutup pintunya santai.

“Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik dalam kondisi kelaparan seperti ini. Kau sendiri yang mengatakan ingin mendengar lagu yang sedang kukerjakan secepatnya kan?”

Setelah kejadian di ruang piano itu, entah setan apa yang merasukinya, membuat sikapnya menjadi seperti ini. Memang tidak selalu, tapi cukup sering. Aku memutar bola mataku dan mendengus pasrah. Kuakui, aku tidak akan pernah bisa sanggup untuk menolak permintaannya, dan sepertinya ia tahu akan hal itu. Aku melangkah menuju dapur, sedangkan dia dengan santainya mengikuti langkahku dari belakang.

“Karena kau sering membuatkanku sarapan, jadi kali ini aku akan bersedia bersikap baik padamu.” ujarku terdengar ketus. Sebenarnya, tanpa mengungkit itu semua sudah dapat dipastikan aku tetap akan membuatkan makanan untuknya kapanpun ia minta.

“Bukannya kau memang selalu tidak bisa untuk tidak bersikap baik padaku?” sindirnya, membuatku tampak bodoh saat itu juga. Aku melangkah dengan cepat, meninggalkannya jauh dibelakangku. Berpura-pura untuk tidak mendengarkan perkataannya tadi mungkin adalah pilihan yang sangat tepat.

 

***

“Ottae?” tanyaku antusias. Ini pertama kalinya aku memasak sesuatu yang berbeda untuknya–selain daripada ramen tentunya.

Suapan pertama, ia masih tidak mengatakan apa-apa. Kedua. Ketiga. Begitu juga sampai suapan yang kelima. Sepertinya pria ini sedang mengacuhkanku. Kumasukkan satu sendok penuh nasi goreng kimchi-hidangan yang kusiapkan malam ini dengan susah payah-dengan kesal.

Ugh. baru saja makanan itu masuk kemulutku, ingin rasanya kukeluarkan lagi. “Asin sekali.” ringisku setelah sukses menelannya. Kyuhyun tertawa kecil melihatku, menghentikan suara piring dan sendok yang saling mengadu. Aku menggigit bibir bawahku. Makanan apa yang baru saja kuhidangkan? Ini bukan makanan!

“Menurutmu bagaimana rasanya?” Aku tersenyum kaku memandangnya. Ini sangat memalukan! Kenapa aku tidak mencicipinya terlebih dahulu sebelum menghidangkanya?

“Tadikan sudah kubilang, sebaiknya kita makan ramen saja.” ujarnya dengan helaan nafas panjang.

“Aku hanya ingin menyiapkan sesuatu yang berbeda. Lagipula, apa kau tidak bosan makan ramen terus?” Jujur, aku sendiri merasa kecewa dengan masakan ini. Kecewa karena aku telah mempermalukan diriku sendiri dihadapannya. Kugunakan tangan kananku sebagai penopang daguku kemudian menarik nafas panjang. Entah ekspresi apa yang sedang dipancarkan wajahku saat ini.

“Sudahlah. Tidak apa.” Ia menyentuh tanganku dengan punggung tangannya kilat, kemudian tersenyum kecil. Walaupun tidak sampai satu detik, tapi sudah cukup membuatku tertegun. “Tidak begitu buruk.” Kembali ia memasukkan satu suapan lagi kedalam mulutnya.

Apa ia baru saja mengatakan makanan ini tidak buruk? Apanya yang tidak buruk? Tidak ada rasa lain selain asin disini. Untuk memakannya lagi saja, sebagai orang waras, pasti tidak akan ada yang mau. Tapi, kenapa dia malah melanjutkan aksi makannya?

“Tidak usah dipaksa. Nanti kau bisa sakit perut.” aku langsung meraih tangannya, mencegahnya saat hendak memasukkan satu suapan lain kedalam mulutnya. Kami sempat terdiam untuk beberapa detik-saat tanganku tak sengaja menyentuh tangannya. Mataku dan matanya pun bertemu. Tatapan tajamnya seakan mengunciku ditempat, mendorongku untuk menelusuri matanya yang indah.

Udara sepertinya mulai terasa agak panas saat itu.. Deringan dari ponsel Kyuhyun berhasil melepaskan kontak diantara kami. Sempat membuatku salah tingkah. Ia berdehem beberapa kali lalu merogoh saku celana-nya. Setelah melihat layar ponselnya ia beranjak dari duduknya, dan melirikku sekilas, “Aku sudah kenyang. Terima kasih atas makan malamnya.”

Bayangan pungungnya semakin lama semakin memudar. Kusisihkan anak rambutku kebalik telinga, terpaku pada sepiring nasi goreng kimchi yang dihadapanku dengan tatapan kosong. Apa yang harus kulakukan dengan nasi goreng ini?

 

~~@@~~

 

KYUHYUN’S POV

 

Kulirik jam dinding yang tergantung indah disudut ruang makan. Sepertinya aku terlambat untuk bangun. Bagaimana dengan gadis itu? Kupandang semua yang ada disekitarku. Pagi-pagi seperti ini sudah ada beberapa benda kotor bertengger di bak cuci.

Saat tanganku akan bergerak untuk membuka lemari pendingin, sebuah catatan kecil-kertas putih yang dipenuhi tulisan-menempel disana. Kulepas kertas tersebut dari tempatnya melekat. Seulas senyuman pun terpancar dari wajahku. Gadis ini, selalu berhasil membuatku tampak bodoh. Tersenyum akan sesuatu hal yang kecil, yang bahkan bisa dikatakan tak berarti apa-apa.

 

Selamat pagi Kyuhyun-ssi ^^

Pagi ini aku ada pertemuan penting

Mau tidak mau, ya aku harus bangun dan berangkat lebih cepat

Tidak  perlu membuat sarapan, aku sudah membuatnya

Lihat betapa baiknya aku!

Jadi, berhentilah bersikap buruk padak, ara?> kkk~

Selamat menikmati.

 

P.S: Dijamin rasanya tidak akan seburuk kemarni malam.

 

~~Jessica~~

 

Drrtt..drrtttt…

 

Ponselku mengeluarkan getarannya dari saku. Sebuah pesan masuk, menampilkan kata ‘Taeng’ disana. Kubaca pesan singkat itu segera. Benar. Hampir saja aku melupakan janjiku untuk bertemu dengannya hari ini.

Kumasukkan kembali ponselku ke dalam saku, kemudian menghampiri sesuatu yang mungkin sudah menungguku daritadi. Kubuka penutup makanan yang ada diatas meja makan. Alisku bertaut, membuat keningku mengkerut. Nasi goreng kimchi? lagi? Aku harap dia tidak mengecewakanku lagi hari ini.

Kutarik kursi disampingku dan mendudukinya. Meraih sepiring nasi kecokelatan yang dihadapanku dengan senyuman. Satu suapan yang cukup membuat puas. Kulirik bak cuci yang hampir penuh. Berapa lama ia memasak ini? Aku menarik nafas dalam. Jessica-ssi… Bagaimana aku bisa menghadapimu?

 

***

 

“Ini.” Taeyeon menyodorkan sebuah jus kaleng padaku, sedangkan soda untuknya. Dengan sigap ia langsung duduk disebelahku. Aku melirik jam tangan yang melingkari tangan kananku dengan sengaja, memeberinya isyarat untuk segera minta maaf padaku. Aku sudah cukup lama menunggunya disini.

Dengan tampang polosnya ia memamerkan senyuman tiga jarinya. “Mianhae.” raut wajahnya menampakkan penyesalan yang dipaksakan. Diraihnya jus kaleng yang ada ditanganku, lalu membukakannya untukku.

“Kau pikir ini sudah cukup untukku memaafkanmu?”

“Tentu saja. Memangnya sejak kapan kau bisa marah padaku oppa?” Kubulatkan mataku, berlagak akan memarahinya saat itu juga. Namun sepertinya tidak berpengaruh, ia malah menjulurkan lidahnya- seperti bermaksud mengejekku, membuat tawaku pun pecah.

“Oppa. Aku tidak bisa lama-lama menemanimu hari ini. Masih ada pasien yang menungguku dirumah sakit.” ucapnya seraya menenggak setengah soda kaleng yang ia bawa.

“Aku tahu. Dokter sepertimu memang selalu sibuk.” Aku mengerucutkan bibirku dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat. Taeyeon menatapku ngeri. Ia langsung berpura-pura ingin muntah. Melihat tingkahnya seperti itu sukses membuatku kembali mengembangkan sebuah senyuman. Lucu sekali rasanya melihat ekspresi-nya saat itu. Kuacak rambut tipisnya dengan gemas.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling taman kota. Sepertinya hari ini taman jauh lebih ramai dari waktu terakhir kali aku mengunjunginya. Banyak anak kecil sedang bermain secara berkelompok, dengan beberapa orang dewasa yang mendampingi mereka tentunya. Apa mereka sedang karya wisata?

Sebuah tangisan anak kecil berhasil mengalihkanku dan Taeyeon. Aku dan Taeyeon memutar kepala ke kanan dan ke kiri, mencoba menemukan asal suara tangisan tersebut. Taeyeon yang mungkin sudah menemukannya langsung berlari. Dengan langkah cepat aku menyusulnya.

“OMO~” Taeyeon langsung menghampiri seorang gadis kecil yang sedang menangis. Begitu melihat darah segar mengaliri lutut kirinya, membuatku tak pikir panjang untuk menghampiri mereka. Dengan cekatan ia mengeluarkan sebuah tisu untuk membersihkan lukanya.

“Tidak apa-apa. Luka ini akan sembuh dengan cepat.” Entah bagaimana caranya Taeyeon bisa membuat tangisan anak itu berhenti. Kata-kata yang diucapkannya sama sekali tidak ada yang luar biasa bagiku. Aku mengernyitkan dahiku. Taeyeon hanya tersenyum melihatku.

“Eun Ji-ya!” lengkingan suara gadis yang sangat kukenal betul terdengar dengan sangat jelas. Suaranya semakin lama semakin terdengar jelas, sampai akhirnya suara itu benar-benar terdengar jelas tepat disampingku. Aku menoleh dan mendapati Jessica. Ini benar-benar diluar perkiraan. Direngkuh dan didekapnya gadis kecil tadi dengan hangat. Wajah Jessica yang awalnya terlihat pucat mulai terlihat normal.

“Gwaenchana?” tanya Jessica lembut. Gadis kecil itu hanya menangguk pelan.

“Jeongmal kamsa.. Kyuhyun-ssi?” belum sempat ia mengucapkan terima kasih kepada Taeyeon, kata-katanya terputus begitu melihatku. Cukup 3 detik baginya untuk memandangku dan Taeyeon secara bergantian.

“Kau mengenalnya?” tanya Taeyeon padaku. Aku menoleh kearah Jessica yang sedang memandangku bingung. Kuanggukkan kepalaku pelan. Taeyeon langsung tersenyum dan memberikan salam kepada Jessica. Jessica pun melakukan hal yang sama.

“Aku tidak pernah mendengar kau punya teman perempuan yang bernama Jessica oppa. Wah.. kau sudah mulai main rahasia-rahasiaan denganku yah oppa?” Kupukul kepalanya pelan, membuatnya meringis sambil mengusap-usap kepalanya.

“Bukan begitu. Kami tidak sedekat yang kau kira.” Jessica mencoba untuk menjelaskan. Entah perasaanku saja atau tidak, tapi aku merasa ia tampak sedikit tidak nyaman dengan situasi saat ini. Ia memandangku sekilas dan kembali menatap Taeyeon yang sedang memberikan sebuah permen pada gadis kecil yang ada dipelukannya.

“Ehmm.. maaf. Sepertinya aku harus pergi. Kami masih harus melakukan beberapa kegiatan lagi disana.” Jessica menunjuk kearah sekumpulan anak-anak kecil yang sedang membentuk beberapa barisan.

“Oh.. Tentu saja. Senang rasanya bisa bertemu denganmu.” balas Taeyeon degan senyuman yang tidak pernah terlepas dari bibirnya.

“Geureom. Sampai bertemu lagi.” Jessica membungkuk untuk memberikan salam kepada kami—aku dan Taeyeon. Ia tersenyum sekilas saat matanya dan mataku bertemu, sebuah senyuman yang berbeda dari biasanya. Jaraknya dan jarak kamipun semakin lama semakin menjauh. Aku menoleh kearah Taeyeon yang masih menyambut lambaian tangan anak kecil yang ada dipelukan Jessica dengan melambaikan tangannya

 

~~@@~~

JESSICA’S POV

 

Semakin lama langis semakin gelap, memperlihatkan bulan setengah yang sedang memancarkan sinar pucatnya. Tanganku tak hentinya menekan tombol remote—mengganti siaran televisi terus menerus tanpa minat. Pikiranku melayang jauh, kembali mengingat kejadian ditaman pada tengah hari tadi. Kim Taeyeon? Gadis yang cukup manis. Tubuh mungilnya, kulit halusnya yang seputih susu, senyumannya yang indah, dan matanya yang bulat. Sangat sempurna.

“Kau sedang apa?” Sapaan yang datang tanpa memberi aba-aba itu sukses membuatku terlonjak dari tempa dudukku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Kyuhyun disana. “Kau ini! Mengagetkan saja,” Aku mendengus kesal.

Dia memandangiku dari atas ke bawah, benar- benar membuatku merasa risih. Apa yang sedang ia lihat? Kusilangkan kedua tanganku di depan dada, membuatnya menautkan alis tebalnya—menatapku dengan tatapan ‘apa yang sedang kau pikirkan?’. Perlahan tapi pasti aku mulai menurunkan kedua tanganku.

“Kenapa memandangku seperti itu?”

Ia sempat diam untuk beberapa detik sebelum menjawab pertanyaanku, “Tidak apa-apa. Aku merasa sikapmu ditaman tadi sedikit aneh. Aku pikir kau sakit. Sudahlah lupakan saja!” Ia berjalan meninggalkanku. Dengan sigap aku menyusul dan berdiri tepata dihadapannya, membuat ia menghentikan langkahnya.

“Tunggu sebentar. Apa kau sudah makan malam? Kalau belum biar aku siapkan.”

Ia memandangku datar dan menangguk singkat. Pria ini… Apa ia tidak punya mulut untuk menjawab niat baikku? Aku mengerucutkan bibirku dan kembali pada posisiku semula—duduk didepan TV tanpa minat. Kuraih remote yang ada diatas meja dengan malas.

“Kau marah?” tanyanya yang entah sejak kapan sudah duduk disampingku. Aku menggelengkan kepalaku singkat kemudian menatapnya yang sedang fokus menonton menatap layar TV. Melihatnya dari posisi sedekat ini benar-benar membuat konsentrasi jantungku untuk berdetak menjadi kacau. Mungkin wajahnya tak semulus porselin—seperti yang kukira, tapi wajah pria ini cukup tampan, dan masuk ke dalam kategori sempurna—setidaknya bagiku begitu.

“Kyuhyun-ssi?” Tanpa mengalihkan tatapannya dari layar, ia menjawab panggilanku dengan satu kali anggukan. “Apa sebenarnya alasanmu menyuruhku untuk tidak menyukaimu? Apa aku tidak boleh tahu?” Sorot matanya langsung menghujamku saat itu juga. Matanya mengawasi mataku dengan intens. Aku juga tidak tahu entah dari mana datangnya keberanianku untuk menanyakan hal ini. Aku mengepalkan kedua tanganku, menahan rasa takut dan gugup yang datang secara bersamaan saat menatap matanya.

“Kau tidak perlu tahu.” jawabnya dingin, sangat sinis dan langsung memutuskan kontak mata diantara kami. Benar-benar hampir membuatku ingin menangis. Aku menarik nafas panjang dan kembali mengeluarkan suara.

“Kau melarangku pasti ada sebabnya kan? Setidaknya kau beritahu aku.”

“Untuk apa?” tanyanya tak kalah sinis dari yang sebelumnya. Ia tersenyum kecil—sebuah senyuman yang sama sekali tidak ingin kulihat darinya. “Menurutku itu bukanlah hal yang penting. Dan untuk sikap baikku selama ini, kuharap kau tidak salah paham. Aku bersikap baik denganmu selama ini, bukan berarti aku sudah menerimamu. Kau masih orang asing bagiku.”

Darahku seakan berhenti berdesir saat mendengar kata-katanya. Sepertinya jantungku sudah berhenti menjalankan fungsinya untuk memompakan darahku ke seluruh tubuh. Aku tersenyum pahit dan menoleh kearahnya yang masih tetap fokus menatap layar TV. Aku menggigit kecil bibir bawahku, menahan rasa sakit saat kata-kata itu terucap begitu saja dari bibirnya.

Bukan hal yang penting yah? Orang asing? Tanpa kusadari bulir-bulir bening mulai menyatu di pelupuk mataku. Itu sama saja artinya ia menganggap aku ini tidak penting bukan? Aku kembali menghela nafas, mencegah aimataku untuk tidak jatuh saat itu juga. Terlambat. Aimata itu sudah terlanjur menetes, mengaliri kedua pipiku.

“Kau tidak perlu berkata begitu. Aku juga sudah tahu kok.” Aku berusaha tertawa kecil, menganggap bahwa perkataannya adalah sebuah lelucon. Walaupun dari raut wajahnya aku tahu dengan jelas bahwa ia serius.

Aku beranjak dari dudukku dan mencoba kembali menahan airmataku—mengatur nada suaraku agar terdengar sebiasa mungkin, “Aku ke atas duluan.” Dengan cepat aku berjalan menaiki anak tangga satu bersatu. Begitu sampai dikamarku, semuanya tak bisa tertahankan lagi. Kusandarkan diriku pada pintu yang sudah terkunci rapat, menahan isakan tangisku untuk tidak keluar. Menyedihkan! Beginikah rasanya jatuh cinta? Kalu rasanya memang begini… Kenapa harus ada cinta?

 

~~@@~~

 

Bulir-bulir bening mulai membasahi bumi, membiarkan semuanya diguyur, bersamaan dengan suara gemuruh yang ditimbulkannya. Langit pagi yang biasanya berwarna biru cerah tidak memperlihatkan wujudnya, membiarkan kabut tebal menutupinya. Telapak tanganku kubiarkan terbuka, membiarkan tetesan-tetesan yang menghujam bumi itu membasahi-nya.

 “Kau tidak kerja hari ini?” Kutorehkan kepalaku menghadapnya. Bola matanya yang hitam menatap gemericik air yang diakibatkan hujan turun dari teras-tempatku dan dia sedang berdiri saat ini. Tetesan air merembes melewati atap, membuat butir bening itu jatuh satu per satu ke tanah.

“Tentu saja kerja.”jawabku sedingin mungkin. Aku menghela nafas panjang sebelum mengembangkan payung merah mudaku. Ini tidak benar, Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Batinku terus berperang. Aku maju selangkah, meninggalkannya yang masih berpijak pada teras, sedangkan aku sudah berada dilindungan payungku yang mengembang, melindungiku dari tetesan hujan yang bisa saja membasahiku.

“Jessica-ssi.” Langkahku terhenti. Menunggunya melanjutkan kata-kata yang akan disampaikan-nya tanpa menoleh sedikit pun.

“Hati-hati.” Satu kalimat yang tidak sampai sedetik untuk mengucapkannya. Aku berbalik, bermaksud untuk melihatnya. Namun tidak ada siapa-siapa disana. Seolah-olah sejak tadi, tidak pernah ada orang yang berdiri disana dan memanggil namaku. Dengan getir aku tersenyum.

Semenjak pembicaraan di ruang tengah saat itu, hubunganku dengannya menjadi sama seperti waktu pertama kali ia datang untuk menetap disini. Disaat sedang sarapan, aku dan dia lebih banyak diam—tidak banyak omong, yang terdengar hanyalah suara sendok dan piring yang saling mengadu. Bukankah itu lebih baik? Jadi aku bisa melupakannya secepat mungkin

Aku menghela nafas berat, masih tetap terdiam ditempat yang sama. Aku pernah mendengar bahwa melupakan orang yang sangat kau cintai adalah sesuatu yang sulit. Seperti luka bakar yang membutuhkan perawatan secara intensif, bahkan terkadang luka itu pun akan selalu meninggalkan bekas.

 

***

 

KYUHYUN’S POV

Setelah berkali-kali gagal dalam menemukan kata yang pas, kuhempaskan lebaran kertas yang ada ditanganku dengan kesal. Sudah hampir dua jam aku disini dan tidak menemukan apapun yang bisa kujadikan inspirasi. Kupijat pelipisku pelan.

Jessica Jung. Gadis itu pasti sedang marah atau bahkan sudah membenciku sekarang. Aku tidak pernah lagi melihatnya seriang dulu saat sedang bersamaku. Berbicara denganku pun tidak akan pernah kalau memang benar-benar tidak ada yang perlu dibicarakan. Sudah seperti orang asing yang baru saja bertemu. Suasana di rumah pun menjadi sangat sepi. Seandainya tugas Heechul hyung tidak mengalami kendala, mungkin saat ini dia sudah ada dirumah.

Aku berjalan keluar kamar. Langkahku terhenti saat berdiri tepat didepan kamar Jessica. Dengan perlahan kuputar knop pintu kamarnya. Gadis ini ceroboh sekali. Tidak pernah mengunci kamarnya dulu sebelum pergi. Mataku menerawang kesetiap sudut ruangan. Warna merah muda sungguh mendominasi ruangan ini.

Aku menemukan sekumpulan kertas putih lusuh diatas meja riasnya. Aku berjalan mendekati meja rias itu untuk meraihnya. Tunggu dulu. Bukankah ini kertas yang kugunakan saat menulis lagu waktu itu? Kertas yang Jessica pungut kembali. Pikiranku kembali memuai. Mungkinkah? Entah harus bersyukur atau tidak. Entahlah. Aku sendiri juga masih bingung dengan semua ini.

 

***

 

Aku berjalan menyusuri koridor yang seluruhnya dicat berwarna putih. Perhatianku terfokus pada papan-papan petunjuk jalan berwarna biru, yang mungkin dapat mengantarkanku ke tempat orang yang ingin kutemui. Senyumanku akhirnya menegmbang saat menemukan namanya tertera di sebuah ruangan. Langkahku pun menuntunku untuk masuk.

“Annyeong!” sapaku santai dan langsung duduk di kursi kosong yang berhadapan dengannya.

Ia mendongak, memandangku sejenak dan kembali melanjutkan aktivitasnya—membaca beberapa tumpukan kertas yang ada di meja kerjanya.

“Ingin kutemani kemana lagi hah?” Tanya Taeyeon tanpa mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas yang sama. Aku tertawa kecil dan memperbaiki posisi dudukku yang sudah mulai terasa tidak nyaman.

“Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu?” tanyaku.

Ia kembali melihat sekilas kearahku, kemudian merogoh saku jas putihnya untuk mengambil ponselnya mungkin? Ia menatap layer ponselnya untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia mengembangkan senyuman tiga jarinya padaku.

“Maaf oppa. Aku sedang memeriksa pasienku tadi. Kondisinya semakin memburuk.” Aku menganggukkan kepalaku pelan beberapa kali. Taeyeon.. Kau tidak pernah berubah. Selalu menomor satukan pasienmu.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyanya bingung. Aku hanya menggelengkan kepalaku untuk menjawabnya.

“Sebenarnya aku ingin menanyakanmu alamat ini. Kau tahu tempatnya dimana? Ayo gambarkan aku peta lokasinya”

Tawa Taeyeon pecah saat itu juga. Dipandanginya secarik kertas yang baru saja kuberikan padanya dengan kekehan kecilnya, “Kau datang kesini hanya untuk ini oppa? Untuk apa?”

Kumainkan kunci mobilku dengan memutar-mutarnya, “Gambarkan saja!”

 

***

JESSICA’S POV

 

Kelas baru saja usai dan kelas juga sudah tampak kosong. Kuregangkan otot-otot tanganku. Belakangan ini aku merasa kalau aku jadi lebih gampang kelelahan. Atau mungkin juga karena akunya sendiri yang kurang bersemangat?

“Sica-ya!” Tiffany melambai-lambaikan tangannya dari arah pintu, tidak sampai 5 menit kemudian ia sudah ada di sampingku, membantuku memasukkan barang-barang ke dalam tas. “Hari ini kau langsung pulang?” Aku berpikir sejenak sebelum menjawabnya, kemudian mengendikkan bahuku.

Walaupun aku dan Kyuhyun sedang dalam situasi yang bisa dikatakan tidak baik—jarang berbicara satu sama lain, hal itu tidak membuatku urung untuk pulang kerumah secepat mungkin. Melihat wajahnya mungkin sudah menjadi bagian dari kebutuhanku saat ini. Aku tahu aku konyol. Tapi memang begitulah nyatanya. Aku juga tidak menyangka.. hanya dalam waktu sesingkat ini, pria itu sudah membuat berubah sebanyak ini.

“Sica-ya” suara Tiffany membuatku kembali dari duniaku. “Maaf fany-aah, sepertinya aku tidak bisa menemaimu hari ini.” Tiffany tersenyum hangat—menunjukkan eyesmile terindah yang pernah kulihat, dan mengusap lenganku lembut, “Arasseo.”

Kuedarkan pandanganku kesekitar. Lingkungan sekolah belum terlalu sepi. Bisa dilihat dari masih banyaknya anak-anak yang bermain di lapangan sekolah. Baju yang mereka kenakan dipenuhi dengan lumpur. Tidak peduli sekotor apapun baju mereka, mereka terus bermain dengan canda tawa.

“Sepertinya sudah tidak mendung lagi.” Ujar Tiffany yang sudah berjalan satu langkah dihadapanku. Aku menengadah. yah.. sepertinya langit sudah tidak dipenuhi awan-awan hitam lagi, meskipun juga tidak secerah biasanya.

“Seonsaengnim!!” Teriakan anak-anak dari arah lapangan bola membuatku menoleh kearah mereka. Belum sempat aku memutar kepalaku, Agh.. Aku bisa merasakan seseorang menarikku dengan paksa., den mendekapku dengan kuat. Parfum ini.. Kalau tebakanku benar, orang ini adalah.. Perlahan tapi pasti mataku yang tadinya terpejam mulai kubuka. Tidak mungkin!

“Gwaenchana?” suara lembutnya berhasil membuatku semakin mempersulit konsentrai otakku bekerja. Untuk beberapa detik aku hanya terdiam memandang wajahnya. Ia mulai melepaskan tanganya yang melingkari pinggangku. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, “Gwaenchana?”tanyanya lagi.

Kali ini aku benar-benar yakin kalau ini memang Kyuhyun. Dengan cepat aku menjauhkan wajahku darinya. Jantungku seakan ingin lompat saat menyadari jarak wajah kami begitu dekat. Aku merapikan pakaianku dan kemudian kembali memandangnya.

“A.. apa yang.. kau lakukan disini?” Sial! Kenapa aku jadi gugup begini?

Dia tersenyum—senyuman yang membuatku jatuh hati setiap kali melihatnya. Kupandang ia dari atas kebawah. Dia mengenakan kemeja berwarna hitam, sebagian lengannya digulung keatas. Rambut keemasannya membuat pria yang ada dihadapanku semakin sempurna.

“Bukankah kau pernah berjanji ingin menemaniku jalan-jalan?” tanyanya santai. Aku hanya bisa menatapnya bingung, kaget, semuanya menjadi satu. Aku menangguk pelan.

“Kalau begitu temani aku jalan-jalan hari ini.” Dikeluarkannya kunci mobilnya dari saku celanannya. Aku hanya bisa diam. Bukankah kami sedang tidak saling bicara?  Lalu kenapa dia malah bersikap seperti ini? Pria ini benar-benar membuatku bingung.

“Bagaimana?” tanyanya pelan, sepertinya dia sedang menunggu jawabanku. Aku menghela nafas panjang, “Kajja!” Aku berjalan mendahuluinya, sedangkan ia menyusulku dari belakang. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menolak permintaan pria ini.

 

 

~~To be continued~~

 

Sorry for long ‘no-update’ >.<

Belakangan ini saya lagi sibuk banget ama kuliah

Banyak tugas dan juga banyak praktikum (-,-)

Jadinya ya gak sempet ngetiknya. (curhat)

 

Mudah”an part ini tidak mengecewakan. ^^

Rahasia-rahasia juga blom pada kebongkar kayanya disini ._.

Yang semangat yah nungguin chap berikutnya!

Akan diusahakan secepat mungkin dah~~

 

active readers, thanks yah atas komen”nya ^^

Kritik maupun saran akan sangat diterima, tapi tidak untuk bashing.

 

P.S: Bashing’s not allowed in here!!

 

 

 

29 responses

  1. aein

    Omo kyu teganya bikin nangis anak orang. Poor sica T T
    Overall chapter ini bagus bgt sperti biasa, gregetnya makin dapat, sukaaa!!
    Smoga next chapternya cepet di posting *ngarepbgt*

    September 18, 2011 at 9:46 pm

    • glad to hear that😀
      kirain part ini bakalan membosankan.~~
      untuk chapter selanjutnya mudah”an saya bisa cepat post ff-nya

      September 22, 2011 at 2:42 am

  2. Devigamekyu

    Keren… Huaa… Sifat kyu susah ditebak,, ap jgn” kyu udh mulai suka sm sica.. Penasaran ni!! Thor, kpn ni donghae.a muncul? Lnjut ya thor..

    September 19, 2011 at 10:25 pm

    • donghae munculnya kapan-kapan aja..
      kkk~ atau gau sah mncul sekalian aja? *plak* LOL
      thx for reading yah🙂

      September 22, 2011 at 2:45 am

  3. Liah icesica4ever

    Anyeong,
    akhirnya di publish juga…
    Masih bikin penasaran ni authornya,
    hehe ..
    Donghae kok belum muncul??pengin yang cinta segitiga gitu,,tapi endingnya tetep kyusica..😀
    tae cuma adiknya kyu kn?*semoga
    kyu sebenernya suka ma sica y?#sok tau,
    aissh KyuSica selalu bikin gemes(?),,
    chingu chap selanjutnya segera y?🙂

    September 20, 2011 at 1:59 pm

    • hahaha.. saya emang doyan bikin orang penasaran😛
      kemunculan donghae ll ditunggu aja yah..
      dan untuk chap selanjutnya
      akan diusahakan secepatnya ^^

      September 22, 2011 at 2:46 am

  4. Andraaa

    Kyu kok jutek amat sih-_- jadi pengen gigit (?)
    tapi tiba-tiba ngajak sica jalan-jalan :O aneh..
    btw lanjut yaa~

    September 21, 2011 at 10:41 am

    • kyu emang aneh~~
      tp tetep aja ganteng (?) u.u

      September 22, 2011 at 2:47 am

  5. Aish~ aku masih penasaran! Semuanya belum terjawab chingu.. Tapi di part ini saia suka! Feel-nya dapet banget deh:)

    Ditunggu kelanjutannya chingu.. Saia benar2 suka FF-mu ini ^^

    September 21, 2011 at 12:09 pm

    • saya teraru dengernya :’) kkk~
      thx for reading yah..
      yah moga-moga aja part selanjutnya tidak mengecewakan🙂

      September 22, 2011 at 2:48 am

  6. di chap ini feel nya dapet banget!
    penasaran chap kelanjutannya neeh.
    Donghae kapan munculnya ?
    heheh, ditunggu chap selanjutnya ^^ …

    September 22, 2011 at 5:43 am

    • untuk kemunculan donghae ditunggu aja yah lol~~
      sep. kalo lg gak sibuk pasti cepetan deh dipostnya🙂

      September 23, 2011 at 6:13 am

  7. kren deh🙂
    pokoknya daebak ! ^^
    lanjut terus ya eonnie .🙂

    September 22, 2011 at 7:15 am

    • sippo ^^
      ditunggu aja yah~~

      September 23, 2011 at 6:17 am

  8. Siti JoJo Sunny

    wah akhirnya kluar jga nie part 3nya.
    ohm jdi taeni seorng dokter toh.
    tpi siapanya kyupa ya-,-
    heepanya lum plang ya.
    bgus dah kembngkan,biarkan kyusica berdua.
    hahaha:D.

    kasian bnget sih sicani~_~
    kyupa super duper dngn n jujur deh.
    tpi akhrnya dia nyadar jga^^

    September 22, 2011 at 3:52 pm

    • thx for reading ^^
      untuk chap selanjutnya.. ditunggu sajooo yo~~

      September 23, 2011 at 6:18 am

  9. Dhea ithuRachma

    Aaah part ini galaunya dapet..
    Bingung bgt sm si kyu..
    Taeng siapanya kyu si.. #penasaran..
    Lanjutannya di tunggu..

    September 23, 2011 at 8:34 am

    • saya sendiri juga galau liat ni FF haha~~
      mgkn kmrn sayanya lagi ngaco pas bikinnya -,-

      September 24, 2011 at 2:35 pm

  10. masih menunggu sungmin appa muncul *lho? salah sambung -_-
    kalo ga ada appa, teuk daddy deh atau hyuk samchon deh~ :3 *ditimpuk author
    kyuji : ada gue pun cukup kale
    me : *ngabaiin *ditendang kyuji

    ah~ JeTi jadi guru anak tk lah yang membuatku berimajinasi ria \>w</ go go go JeTi~! JeTi polepel deh *ehh

    September 23, 2011 at 3:35 pm

    • go JeTi! go JeTi!
      tp saya masih gak ngerti mengenaai pertengkaran kakek-cucu disini ._.

      September 24, 2011 at 2:35 pm

  11. kansaaa

    chingu lanjut yaaaaa

    October 8, 2011 at 3:04 am

  12. sari indah oktanti

    agh..penasaran ama lanjutannya n akhirnya. chngu emang paling pinter buat alur cerita jd seru.hrusnya chngu nulis novel,jgn fanfic aja.fighting chngu!!

    October 16, 2011 at 10:45 am

  13. cenat-cenut bacanya..
    ahh kyu bikin sica jadi galau nih, devil boy hhe
    giliran sica baik, kyu malah sok cool, gliran sica ngejauh, kyu malah nyari..
    bimbang deh -___-

    lanjutin chingu, penasaran,, trutama sama cast donghae, beneran nih

    December 4, 2011 at 7:49 pm

  14. SmileAngel90

    Omo! daebak! i realy love KyuSica T^T
    Kyu baik dikit dong ama sica~ jgn bikin sica kita galau~
    Lanjut please! :DD

    December 24, 2011 at 9:36 am

  15. ruthsica

    lanjut ya^^ aku suka FF eonnie😀

    kok akang haeku belum muncul eonn? *apadeh-_-

    December 25, 2011 at 1:41 pm

  16. ellynd

    huaaa….. makin pnasaran aj neh chingu….jgn lm2 ya part slnjtnya.^^

    December 30, 2011 at 8:32 am

  17. kyuhyun ko random banget sih -__- tapi bagus (y)

    update segera yaaaa xD

    January 7, 2012 at 11:16 am

  18. ceritanya seru nad keren bgt pas juga aku tch ska bgt yg nama nya kyu n sicca
    cepat d sambung ya cerita nya…………please………………….

    January 22, 2012 at 6:56 am

  19. Penasaran… itu Kyuhyun suka ma Jessica tapi koq kayak ngehindar sie..
    emang kenapa? hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..
    Aduh sica di selamatin Kyuhyun OMG.. feelnya dapet aq jadi cengengesan seindiri nie chingu,,

    March 7, 2012 at 9:36 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s