sujushidaeforeternity!!

FF ONESHOT ~ LAST CHANCE

PLEASE DONT BE A SILENT READER

Main cast :
Jessica Jung
Lee Donghae
Im Yoona

Genre : Romance

Kesempatan? Kata-kata yang akan terpikirkan oleh kalian pertama kali pasti adalah kesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Apakah benar seperti itu? aku juga tidak tahu jawabannya. Hanya saja yang aku tahu, jangan pernah menyia-nyiakan sebuah kesempatan yang sudah berada tepat di hadapanmu.

Seorang pria tampan sedang berjalan seraya melambaikan-lambaikan tangannya sambil tersenyum menatapku dari kejauhan. Ia mengenakan jacket putih yang semakin memperlihatkan sisi maskulinnya sepasang dengan jeans biru tuanya dan sneakers putihnya.
“sica-ya!” pria itu sekarang sudah berada dihadapanku dengan tatapan hangatnya.
Aku tersenyum membalasnya dan mengisyaratkannya untuk lekas masuk ke dalam café yang berada di belakangku.
“Yoona sudah cukup lama menunggumu di dalam sana.” Ia pun mengangguk dan berlalu. Aku dapat melihat wajahnya yang terlihat tegang.

——

Malam ini aku kembali membuka kenangan lama yang selama ini kusimpan. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Luka lama yang sempat kutahan selama ini kembali terasa perih. Tanpa kusadari sesuatu yang jatuh dari mataku sekarang sudah membasahi kedua pipiku.

10 November 2009

Udara dingin menusukku kulit putihku yang sudah terlapisi dengan sweater merahku yang sangat tebal. Aku melihat sekeliling taman. Ini adalah tempat dimana aku pertama kali bertemu dengannya dan tepat pada tanggal 10 ini. Aku menoleh ke arah jam yang terletak di taman kota dari tempatku berdiri sekarang. ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10.00 KST a.m.
“sebenarnya apa yang ingin oppa sampaikan?” tanyaku dengan kesal pada pria yang berada dihadapanku ini. bagaimana tidak kesal? Kami sudah berdiri hampir satu jam disini tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Padahal dia sendiri yang memintaku untuk datang ke tengah taman kota karena ada sesuatu yang ingin dibicarakannya denganku. Aku sudah hampir mati membeku disini.
“ehm.. ehm..” dia terlihat sangat tegang sekali.
“saranghaeyo..”
Mataku membulat mndengar kata-kata yang baru saja diutarakannya.
“oppa..”
“kau.. maukah kau menjadi kekasihku?”
Aku hanya terdiam tak percaya mendangar dengan apa yang baru saja disampaikannya.
“mianhaeyo oppa, tapi aku rasa aku tidak bisa.”

Kecewa.. itulah yang tersirat dari wajahnya saat ini.
Ia tersenyum pahit mendengar jawabanku, “boleh aku tahu alasannya?”
“aku tidak menyukaimu oppa.”jawabku hati-hati.
“mungkin kau belum menyukaiku?” tanyanya meyakinkanku.
“entahlah.” Aku menggeleng pelan.

***
Aku masih bisa mengingat jelas begitu banyak perjuangan yang ia lakukan untuk mengambil hatiku. Ia benar-benar sangat baik padaku. Jujur.. usahanya selama ini membuat hatiku sedikit tergerak. Baiklah, mungkin tidak sedikit, tetapi banyak. Hanya saja sesuatu membuatku tetap bersikeras menyangkal semua perasaanku padanya. Mungkin kesakitanku dimasa lalu yang membuat ketakutanku untuk memulai sebuah kisah percintaan yang tidak dapat ku ketahui akhirnya seperti apa membuatku tidak ingin membuka lembaran cinta baru.

22 November 2009
Semakin hari udara di Seoul semakin dingin. bagaimana tidak dingin? lapisan-lapisan salju berada di setiap sudut jalanan. kurapatkan kedua telapak tanganku dan mulai menggosoknya perlahan. Aku melihat namsan tower yang ada dihadapanku sekarang.

Lee Donghae.. pria ini aneh sekali. di musim bersalju ini dia mengajakku ke namsan tower dengan alasan untuk menikmati udara segar? Yang benar saja.
Akhirnya pria yang kutunggu-tunggu pun muncul juga. Ia membawakanku kopi hangat. Ia tersenyum sangat manis sehingga membuat jantungku berdetak tidak normal. Kuseruput kopi yang baru saja diberikannya.
“maaf aku mengajakmu kesini disaat keadaan tidak mendukung seperti ini.”
Aku tersenyum, “gwaenchana oppa.”
“habis ini kau mau kuajak kemana lagi?”
“aku ingin bermain di taman kota.”

Aku tidak tahu apa yang menyebabkanku menyebut tempat itu. dengan kondisi seperti ini aku telah mengajaknya ke taman kota? Bila dibandingkan dengan dia yang mengajakku ke namsan tower, mungkin aku sudah lebih tidak waras dibandingkan dengannya. Saat itu yang terpikirkan olehku menghabiskan waktu bersamanya.

Taman Kota
Kuhampiri kursi taman yang aku ingat betul berwarna hijau kini sudah berubah menjadi berwarna putih. Apa lagi kalau bukan karena lapisan salju?
“sica-ya!” aku menoleh dan seketika itu aku merasakan sesuatu yang dingin mengenai wajahku.
“oppa!” aku berteriak kesal. Itu berasal dari bola salju yang ia lemparkan ke wajahku sesaat telah memanggilku.

Dia tertawa lebar sehingga menunjukkan deretan giginya yang rapat. Aku suka itu. aku tertegun memandangnya. Sampai-sampai aku tidak sadar ternyata dia sekarang tepat berada dihadapanku.
“sica-ya!” ia memanggilku dengan wajahnya yang kebingungan.
Aku tersadar saat itu juga, “apa yang oppa lakukan?” aku menjauhkan diriku dari tubuhnya. Wajah kami tadi sangat begitu dekat.
“waegeurae?” ia kembali mendekatiku, sedangkan aku kembali mengatur nafas dan detak jantungku.
“aku ingin pulang” cetusku spontan.
Ia tampak kaget mendengarku, “apa kau marah?”
Aku rasa ia pikir aku marah karena lemparannya tadi, “aniya.. aku hanya ingin pulang.”
Aku membalikkan badanku dan berjalan menjauhinya.
Deg.. sesuatu menahanku. Aku bisa merasakan nafasnya kini tepat ditelingaku. Pelukannya sangat hangat.
“mianhae.. mianhae.” Bisiknya.

Aku melepaskan tubuhku dari dekapannya hati-hati dan kemudian memandangnya dengan senyumku yang sedikit kaku.
“aku tidak marah oppa.”
Dia kembali memelukku, “gomawo.”

Setelah 3 hari kejadian itu, Donghae kembali menyatakan perasaannya padaku. Jujur.. aku sangat senang saat itu, namun rasa ketakutanku ternyata jauh lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Lagi-lagi ekspresi kecewa itu lagi yang kulihat dari raut wajahnya saat aku menjawab pernyataannya. Bodoh…

———————————–

Tok.. tok.. tok..

Terdengar suara ketukan pintu dari pintu kamarku. Kututup buku berwarna merah muda yang sedang aku baca tadi dan menaruhnya di laci meja kerjaku., “masuklah!”

Dengan senyumannya yang sangat manis, Yoona datang menghampiriku dan membaringkan tubuhnya disampingku.
“sepertinya kau senang sekali.”seruku.
Ia menoleh kearahku dan kembali tersenyum, “Donghae oppa melamarku hari ini.”
Dadaku sakit sekali. rasanya aku ingin menjerit saat itu juga menahan semua sakit ini.

“ohya? Kau pasti bahagia sekali.” aku berusaha menahan air mataku yang sepertinya sudah menggenangi pelupuk mataku.
Dia kembali tersenyum, “kalau memikirkan pertunangan, rasanya aku ingin langsung menikah saja.”
Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak sanggup lagi mendengar ini semua.
“kalau nanti kami jadi menikah, eonni yang harus menjadi pendampingku.” Ucapnya mantap.

Cukup! Hentikan Yoona! Air mataku benar-benar tidak bisa terbendung lagi sekarang.
Aku bangkit dari kasurku den berdiri membelakanginya.
“eonni.. ingin ke.. toilet dulu..” aku berlari meninggalkan kamar.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Yoona melihat sikapku ini dan aku tidak peduli lagi. Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi mendengar ceritanya.

———————————–

20 Desember 2009
Seorang gadis cantik berlari menghampiriku dengan sedikit berteriak memanggilku kemudian memelukku. Aku sangat merindukan sosok ini, Im Yoona, adik perempuanku yang sangat cantik.
“sica eonni! Bogosiphoyo!” ujarnya. Senyumannya manis sekali.
“na do.” Balasku memeluknya.
“dia siapa eonni?” tanya Yoona seraya menunjuk pria yang berada di sampingku.
Aku tersenyum dan mengisyaratkan Donghae untuk menyapa Yoona,
Donghae tersenyum, “annyeong haseyo! Joneun Donghae imnida.”
Yoona menyambut uluran tangan Donghae, “Yoona Imnida.”

***

Aku terus berpikir. Seandainya saja pertemuan itu tidak pernah terjadi dan seandainya saja pertemuan itu aku tidak pernah bersikap bodoh. mungkin luka yang selama ini kurasakan tidak akan pernah terjadi.

21 Januari 2010
Aku menggeliat malas di atas kasurku sesaat seberkas cahaya putih tampak sesaat setelah aku membuka kedua mataku. Aku mendapati Yoona sedang berdandan dengan sangat cantik di meja rias kamarku.
“Yoona-ya! Eodiga?” Yoona menoleh dan tersenyum.
“Donghae oppa ingin menemuiku pagi ini. apa aku boleh menemuinya eonni?” aku mengangguk.
sudah hampir satu bulan Yoona berada di Seoul dan sudah selama itu juga menjadi dekat dengan Donghae. Walaupun aku sedikit merasa tidak tenang jika melihat mereka sangat dekat satu sama lain, tapi aku menepis rasa itu jauh-jauh.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 KST p.m. Yoona belum juga kembali dari tadi pagi.
“eonni!” Yoona memelukku dari belakang membuatku terlonjak kaget karenanta.
“kau ini! kau darimana saja?”
“eonni tenang saja! Donghae oppa menjagaku dengan baik.” Yoona menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
Aku berjalan menghampirinya dan duduk disampingnya.
“eonni.. sepertinya aku menyukai Donghae oppa.”
Mataku membulat saat mendengar perkataannya, “mwo?”
Ia tersenyum dan bangkit dari tidurnya. Ia menatapku dengan mata yang sangat berbinar-binar.
“bantu aku eonni!”
Aku hanya bisa tersenyum gugup mendengarnya. Rasanya hatiku ingin menjerit saat ini.

———————————–

Aku memandang pria yang sedang duduk dihadapanku pagi ini. sesekali ia melirik jam tangan yang melingkar ditangan kanannya. Aku tersenyum pahit melihatnya. Hari ini Donghae berjanji akan mengantar Yoona dan aku untuk melihat catalog cincin untuk pertunangan mereka nanti. Aku sudah berulangkali menghindar untuk tidak ikut, tetapi melihat Yoona yang memelas memohon kepadaku untuk menemaninya, aku tidak punya pilihan lain.
“Yoona!” Panggilku.
“Jamkanmanyo eonni!”
Donghae tertawa geli mendengar teriakan kecil adikku itu. rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Apakah aku cemburu? Ya mungkin aku memang cemburu.. tawa itu dulu hanya milikku Sekarang? itu bukan lagi milikku.
“sica-ya! Sica-ya!” Donghae menyadarkanku dari lamunanku.
“apa kau baik-baik saja?” tanyanya
Aku tersenyum kecil kemudian mengangguk.
“oppa!” Yoona berjalan menuruni tangga dan duduk disamping Donghae.
“apa kau sudah siap pergi?”
“aku tidak bisa pergi hari ini. ternyata, aku punya jadwal rapat dengan bosku siang ini.”
“jadi bagaimana?”

Yoona melirikku kemudian tersenyum memandangku. Aku tahu maksud dari senyuman itu. dengan sigap aku menggeleng. Ia kembali menunjukkan wajah memelasnya dengan tangan yang mengisyaratkan untuk memohon. Aku hanya bisa mendengus pasrah dengan ide konyolnya lagi.

***
Jewelriest Shop

Aku memandang kagum setiap cincin demi cincin yang berada dihadapanku saat ini. semuanya sangat indah. Tadinya Donghae ingin melihat catalog saja, namun tidak tahu kenapa pikirannya tiba-tiba berubah. Mataku tertarik pada sepasang cincin. Mata cincin tersebut berbentuk bunga teratai kecil yang terdapat berlian berbentuk hati diatasnya.
Deg.. aku dapat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh tanganku. Aku menoleh dan mendapati donghae sedang memandangku. Spontan aku langsung menarik tanganku.

“apa kau menyukai cincin itu?”
Dia tampak diam sejenak kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“aku rasa adikku juga akan menyukainya.”
Dia mengambil cincin tersebut dan memasangkan salah satu cincin yang agak besar di jari manisnya, kemudian melingkarkan cincin yang satunya lagi di jari manisku. Aku sempat menolak, namun dia hanya tersenyum dan kemudian melingkarkannya di jari manisku.
“apa jarimu cocok dengan Yoona?” tanyanya.

Aku tersenyum getir dan kemudian mengangguk.
“kalau begitu aku ingin yang ini.” Donghae melepaskan cincin yang melingkar ditanganku dan kembali meletakkannya ditempatnya kemudian memberikannya kepada wanita yang berada di hadapan kami.

Setelah mengambil cincin, aku dan Donghae singgah di taman yang dulu kami kunjungi bersama. Aku heran kenapa dia memilih untuk datang ke tempat ini. disinilah tempat dimana awal pertemuanku dengannya

 

———————————–

10 November 2008
Aku tidak peduli ada berapa banyak orang yang melihatku seperti orang gila menangis siang hari begini seperti orang gila. Gaun putih yang tadinya sangat indah bagiku sudah menjadi rusak keindahannya dimataku. hari yang seharusnya menjadi hari terindah bagiku hancur sudah! Pria yang menjadi sosok yang paling kucintai sedetik itu juga menjadi sosok yang paling aku benci.

“Maaf saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena saya.. saya bukanlah orang yang tepat untuk menikahinya..”
“oppa??!”
“mianhaeyo sica-ya!”
“sungmin oppa! apa yang kau lakukan?”

Kata-kata itu terus terngiang dibenakku. Sesaat setelah ia mengatakan itu aku lari sejauh-jauhnya dan lari sekencang-kencangnya..

“bodoh..” seru seorang pria.
“mwo?” aku menatapnya garang. Pria itu memakai stelan jas berwarna hitam. Sepertinya ia baru menghadiri sebuah pesta.
“untuk apa kau menangisi pria brengsek seperti itu? airmatamu terlalu berharga untuk itu.”
Aku terdiam mendengar kata-katanya.
Dia duduk disampingku dan menghapus airmataku.
Aku kaget melihat sikapnya dan langsung menjaga jarak dengannya.
“aku bukan seorang maniak. Kau tenang saja.” Ia menatapku dengan tatapan hangatnya.
Aku semakin menangis melihat tatapan ibanya itu.

———————————–

Taman kota..

“Rasanya sudah lama aku tidak datang ketempat ini”
Aku hanya bisa tersenyum lemas menanggapinya. Ya.. aku juga. Aku sudah lama sekali tidak datang ketempat ini. rasanya aku ingin segera pergi dari tempat ini sekarang juga.
“aku ingin pulang.” Aku sendiri bisa mendengar nada suaraku bergetar saat mengatakannya. Aku tidak tahu apa dia mendengarnya atau tidak.
“selama ini begitu banyak hal yang terjadi disini. Aku senang bisa mengenalmu dan diberi kesempatan untuk mencintaimu. Kalau aku tidak melalui semua itu mungkin tidak akan bertemu dengan Yoona saat ini.”
Bolehkah aku menangis dan menjerit sekencang-kencangnya sekarang? kesempatan mencintaiku? Benar.. begitu banyak kesempatan yang ia berikan kepadaku. Seharusnya kami bisa lebih dari sekedar teman.

Aku bisa merasakan bulir-bulir airmataku sudah menetes membasahi pipiku. Kemana saja aku selama ini? hanya tenggelam didalam luka lama. Dadaku sakit sekali, aku rasanya ingin lari dari tempat ini sekarang juga. isakan tangisku pun mulai pecah. kini semua kebodohanku terlihat begitu nyata.
“sica-ya!” Donghae menghampiriku yang sedang menangis dengan menundukkan kepalaku dengan tangan yang menutup wajahku.
“sica.. waegeurae?”

Ini mungkin pemikiran yang bodoh. tapi, mungkin ini memang kesempatan terakhirku bersamanya seperti ini. ini mungkin kesempatan terakhirku mengutarakan semua perasaan dan sakit yang kurasakan selama ini. Aku tidak mau luka baru ini menjadi semakin menyakitkan.
Sekarang aku bisa merasakan ia datang duduk disampingku. Ia mengangkat wajahku untuk memandangnya.

“sica-ya.. waegeurae?” ucap Donghae sedikit berbisik seraya menghusap airmataku.
Aku memandangnya dengan mataku yang masih tidak hentinya menitikkan airmata.
“saranghaeyo..” ujarku pasrah
Matanya yang indah membulat mendengarnya.
“aku tahu semua sudah terlambat. Aku terlambat untuk mengakuinya. Dari pertama kau menyatakan perasaanmu padaku, aku ingin sekali mengatakan ya. Tapi, ketakutanku untuk memulai suatu hubungan menepis semua itu.”
Donghae terdiam mendengar ceritaku.
“sekarang.. kau sudah bersama Yoona.” Aku tersenyum getir tak sanggup melanjutkan perkataanku.
Sesuatu yang hangat membelai pipiku. Ia tersenyum dengan tatapan.. iba?? Atau mungkin ia merasa bersalah atas semua ini.
“mianhaeyo sica..”
Aku tersenyum mendengarnya, “aku tahu kau sangat mencintai Yoona, begitu juga dengan adikku. Semoga kalian bahagia.”

***

Setelah beberapa bulan yang lalu bertunangan, Yoona dan Donghae memutuskan untuk langsung menuju ke pelaminan. mungkin karena Yoona yang baru saja mendapat promosi kerja keluar negeri.
Setelah beberapa kali mencoba menenangkan wanita yang sedang mengamit lenganku kiriku, akhirnya pintu gereja pun terbuka. Aku bisa melihat dengan jelas seorang pria tampan tampak sangat gagah dengan setelan jas putihnya. Aku menoleh kearah wanita yang berada disampingku, Yoona. Ia sangat cantik hari ini dengan gaun putih kembangnya dan hiasan bunga yang tertata rapi diatas kepalanya. Tidak hentinya senyuman manis menghiasi wajahnya sambil terus menatap pria yang sedang menatapnya dengan tatapan hangat dari atas altar.
Yoona menyambut tangan uluran tangan Donghae dan sekarang mereka sudah saling berdiri berhadapan.
Aku mengambil tempat duduk paling belakang. Aneh.. sakit itu tidak muncul saat aku melihat mereka saling mengucapkan janji suci dan saling melingkarkan cincin.
Sesaat setelah mengutarakan semua perasaan yang membuatku sesak selama ini membuatku lega.. sangat lega.. semua beban dan sakit yang selama ini kurasakan rasanya hilang saat itu juga. Walaupun tidak sepenuhnya hilang, tapi aku sudah bisa merelakannya bahagia bersama dengan adikku dan mulai bisa melupakannya.

Kutarik nafasku sedalam-dalamnya dan kuhembuskan perlahan seraya membuka mataku yang terpejam. Sekarang aku disini berdiri. Berdiri di sebuah taman yang terletak di depan halaman gereja. Aku masih dapat mendengar alunan nada piano dari sana.

Aku yakin kesempatan itu tidak hanya datang sekali atau dua kali. Tuhan pasti memberikan banyak kesempatan yang baik untuk setiap orang, namun itu semua tergantung dari setiap orang itu menyikapinya. Tapi kalau untuk kesempatan terakhir.. aku rasa kata-kata itu juga ada. Namun sekarang aku tahu mengapa kata-kata bahwa kesempatan tidak akan pernah datang dua kali itu ada. Itu artinya, jangan pernah menunggu-nunggu kesempatan.. ketika seseorang menunggu kesempatan berarti ia telah menyia-nyiakan kesempatan sebelumnya yang telah diberikan.
Mungkin selama ini aku telah menyia-nyiakan banyak kesempatan. Tapii.. aku masih punya kesempatan lain bukan untuk bahagia? Aku tidak tahu kesempatan yang kuhadapi nanti adalah kesempatan terakhir atau tidak.Yang pasti yang akan aku lakukan adalah menanti kesempatan itu datang dan tidak akan pernah menyia-nyiakannya.

“ehm..” seseorang sukses membangunkanku dari lamunan panjangku.

Aku menoleh dan mendapati seorang pria duduk disampingku.
“bukankah kau kakak dari mempelai perempuan? Kenapa tidak di dalam?” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.
“darimana kau..”
“Aku yang menemani adikmu Yoona selama di New York. ia bercerita banyak jal tentangmu.” Dia terus saja berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya itu.
“kau belum menjawab pertanyaanku.” Ia melirikku sekilas dengan sorot matanya yang tajam dan kemudian kembali kebukunya.
“menghirup udara segar.” jawabku singkat.
Jujur.. pria yang berada disampingku ini sangat tampan. wajahnya tirus dan putih, hidungnya bagus sekali, bibirnya…
“apakah aku begitu tampan sampai-sampai memanadangku seperti itu?”
Ia menutup bukunya dan tersenyum memandangku.
Deg.. apa-apaan ini? aku baru saja betemu dengannya dan jantungku sudah tidak normal seperti ini?
“Kyuhyun imnida”
“Jessica Imnida.” Aku menyambut uluran tangannya yang hangat seraya menatap senyumnya yang sangat manis.

~~~~FIN~~~~

Dont forget to leave your comment! ^^

18 responses

  1. mrs.fishy87

    keren beth!
    ngingetin onn sm crta masa lalu jdnya
    T.T
    kesempatan mang g blh dilewatin
    eh iya ni willa eon ^^

    December 26, 2010 at 4:29 am

    • haha.. adri mrs.fishy nya saya juga udah tw ini psti willa eon..😀
      gomawo uda di comment eon..
      wah.. curhat nih ceritanya..
      kekekeke.. kidding.. ^^
      thx ya eon uda baca❤

      December 26, 2010 at 5:31 am

  2. sonelf

    Bagus bgt nih! ^^
    wah ada aja ya inspirasinya author
    kyunya muncul di akhir2 hehehe..
    keliatan yang kyu biased neh. di tunggu karya2 slanjutnya!

    December 29, 2010 at 3:35 pm

    • haha.. yah emang keliatan banget yang kyu biased🙂
      makasih yah uda baca^^

      December 30, 2010 at 11:36 am

  3. annyong…
    Inna imnida. Bru nemu blog ini u.u
    pas cari di google fanfic haesica, muncul blog ini.

    Wahhhhh,,,,
    fanfic nya ngena bget .
    Good job author! :))))
    kata-katanya keren .
    Tp ending nya nanggung bget , buat donk author ff oneshoot klanjutan ini tp fokus ama kyuhyun-jessica. Ksihan sica nya u.u

    December 31, 2010 at 8:20 pm

    • wah selamat datang kalau begitu (?) ^^
      sempat kepikiran sih..
      tp takut gabagus..
      tp ntar deh saya pikirin lg
      thx atas sarannya yah..

      January 20, 2011 at 3:48 pm

  4. Heavent_sic

    Haaahhh sdih ny,,,
    authorrr…. Kau skses mmbuatkn menangis,, huhuhu…T.T
    aq pkr ikan bkal ninggaln yoona, ‘n mmbri ksmptan gy pd sica ,, ech, ga ao ny,,,, ikan ttp cma yoona..
    Tpi,, gk pp dc klo onnie qw sica akhirny cma cy Maniac game,, hahahaha/ktwa ala evil,,
    klo bza bkin lnjud an nya ya thor..

    Oh ya,, slam knal..🙂

    January 15, 2011 at 8:08 am

    • wah makasih yah udah baca dan comment ^^
      sequelnya gtu?
      kepikiran sih tp takut maksa, jdnya malah ga bagus ntar.

      January 20, 2011 at 3:36 pm

  5. poor sica..😦

    February 12, 2011 at 10:43 am

    • yeah..🙂
      tp spa tahu tuh ada kyu pmbwa kebruntungan🙂

      February 13, 2011 at 12:05 pm

  6. aein

    waa!! new reader. suka ceritanya author.
    miris, tapi endingnya sweet❤
    trus, jarang2 juga liat fanfic yg ada kyusica nya. makanya sukkaaaa bgt jadinya deh.

    March 20, 2011 at 4:50 pm

    • welcome kalo gitu ^^
      saya juga suka banget kyusica
      hehe.. yhx for the comment yak..

      March 21, 2011 at 7:57 am

  7. Pingback: Another Chance (sequel of Last Chance) « Bethpages's Blog

  8. Siti JoJo Sunny

    ehm tuh kan jdi agak nyesel?
    tpi tak apa ada gantinya.
    hehe^^

    August 2, 2011 at 4:11 pm

  9. buat lg eonnie (:
    bagus iinii ^^
    syg, kyuhyunya nongol terakhiran –a

    October 6, 2011 at 8:51 am

  10. daebak..
    aku pikir bakal balik sama haeppa, gaktaunya haeppa sama yoona..
    kecewa sih awalnya, untung ada kyuppa.. 🙂
    keren kere, sweet banget!!!

    December 6, 2011 at 1:56 pm

  11. ruthsica

    padahal aku maunya donghae ama sica T_T

    December 25, 2011 at 2:49 pm

  12. kayla

    sempet takut klo yoona gagal nikah sama donghae oppa….
    tapi akhirnya jadi juga,gamsahamnida eonni..
    ceritanya bagus bgt!!
    fighting!!!

    March 9, 2012 at 2:34 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s